Kasih makan aku dong.. ( click aja )

Selasa, 06 Desember 2011

Polusi Udara di Kota Bandung


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Kota Bandung sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Kota Bandung terletak diantara 107° Bujur Timur dan 6° 55’ Lintang Selatan dan pada ketinggian 768 dpl dengan titik di bagian utara 1050 dpl dan terendah di bagian selatan 675 dpl. Dengan luas wilayah adalah 16.729,5 ha dan jumlah penduduk tahun 2008 sebanyak 2.233.901 jiwa, Kota Bandung menghadapi berbagai tantangan dalam perkembangannya, salah satunya adalah permasalahan lingkungan. Kota Bandung terbagi atas 6 wilayah dan 30 kecamatan.
Sumber pencemaran udara di Kota Bandung adalah berasal dari sektor transportasi industri dan rumah tangga. Pada umumnya pencemaran udara dari sumber-sumber tersebut berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dengan sumber pencemaran udara yang paling besar adalah berasal dari sektor transportasi.
Peningkatan jumlah kendaraan di Kota Bandung saat ini sangatlah pesat. Dengan jumlah kendaraan yang semakin meningkat sedangkan panjang ruas jalan di Kota Bandung adalah 3% dari luas wilayah, ( luas wilayah jalan idelanya adalah 15 – 20% ) maka semakin tinggi pula emisi yang dihasilkan. Selain menyebabkan masalah lain seperti kemacetan, kecelakaan lalu lintas, dan kebisingan. Berdasarkan hasil penelitian dari Pudji dari Institut Tekhnologi Bandung, jumlah kendaraan bermotor di Kota Bandung menyumbang Karbonmonoksida ( CO ) sebanyak 599 ton/tahun atau setara dengan 98% dari keseluruhan emisi CO di Kota Bandung.
Disamping itu, kondisi Kota Bandung yang berada dalam cekungan Bandung yang dikelilingi pegunungan seperti Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Manglayang, dan Gunung Patuha, telah mengakibatkan terperangkapnya gas buang yang dihasilkan oleh sumber pencemar di Kota Bandung sehingga makin lama akan terakumulasi.
Permasalahan tersebut berdampak terhadap beberapa hal terutama pada kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat, berdasarkan data sebagai berikut :
v    Menurut profil kesehatan kota Bandung tahun 2004, dari dua per tiga bayi ( usia kurang dari satu tahun ) menderita gangguan infeksi saluran pernafasan bagian atas ( ISPA ).
v    Penelitian yang dilakukan oleh Institut Tekhnologi Bandung ( ITB ) tahun 2005 tentang kadar timbel dalam darah anak – anak Sekolah Dasar ( SD ) menunjukkan bahwa dari 400 anak pada 40 SD yang tersebar di Kota Bandung yang diteliti melebihi ambang batas ( 10 mg/dl ) adalah 264 orang ( 66% dari jumlah sampel. Kondisi ini menunjukkan tingkat pencemaran timbel yang berbahaya di kota Bandung, sehingga dapat disimpilkan adanya kolerasi positif antara kadar timbel dalam darah dengan tingkat kecerdasan ( IQ ) pada anak-anak sekolah.
v    Pemeriksaan kadar timbel dalam rambut remaja Sekolah Menengah Atas ( SMA ) dilaksanakan oleh BPLH tahun 2005 sebanyak 30 siswa berusia rata-rata 17 tahun diperiksa dengan cara mengambil cuplikan rambut kemudian dianalisis di laboraturium. Rata-rata pemeriksaan menunjukkan melebihi ambang batas ( 1,5 ppm ).

Menghadapi permasalahan ini pemerintahan kota Bandung melakukan berbagai langkah dan upaya agar dapat mengatasi dan meminimalisir dampak pencemaran udara bagi masyarakat. Diantaranya adalah dengan melakukan penghijauan, uji emisi, pengukuran udara dalam ruang parker tertutup.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Pengertian Pencemaran Udara
Pengertian pencemaran udara berdasarkan Peratutan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi dan atau komponen lain kedalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.

2.2              Sumber Pencemaran Udara
Pencemaran udara dibedakan menjadi :
1.                  Pencemar Primer
Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemar udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran.
2.                  Pencemar Sekunder
Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar -pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.

Polusi udara merupakan gabungan antara asap, kotor dan bau yang tidak sedap, dan banyak diantaranya meruakan sumbangan dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Emisi ini merupakan pemancaran atau pelepasan gas yang berasal dari pembakaran pada kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar yang berasal dari minyak bumi ( bensin dan solar ) ke lingkungan udara melalui kenalpot kendaraan bermotor.
Faktor-faktor yang mempengaruhi polusi udara antara lain volume lalu lintas, komposisi lalu lintas, kecepatan, jenis kendaraan, jenis bahan bakar, usia kendaraan, ukuran berat, jumlah berhenti dan berjalan, RPM dan gradient jalan.

Sumber pencemar udara dibagi menjadi:
Sumber alami penyebab pencemaran udara adalah dari :
a.                  Sumber alami pencemaran, disebabkan oleh :
ü  Gunung berapi
Salah satu gas pencemar yang dihasilkan oleh gunung berapi adalah SOx. Indonesia merupakan negara di dunia yang paling banyak mempunyai gunung berapi ( sekitar 137 buah dan 30% masih dinyatakan aktif ). Oleh sebab itu Indonesia mudah mengalami pencemaran secara alami.
ü  Rawa-rawa
ü  Ditrifikasi
ü  Kebakaran hutan
Kebakaran hutan merupakan proses yang paling dominan dalam kemampuannya menimbulkan polutan disamping juga proses atrisi dan penguapan. Karena dari pembakaran itulah akan meningkatkan bahan berupa substrat fisik atau kimia ke dalam lingkungan udara normal yang mencapai jumlah tertentu, sehingga dapat dideteksi dan memberikan efek terhadap manusia, hewan, vegetasi dan material.
b.                  Sumber pencemar dari kegiatan manusia, yaitu :
ü  Transportasi.
ü  Industri.
ü  Pembangkit Listrik.
ü  Pembakaran ( perapian, kompor, furnace, insinerator dengan berbagai jenis bahan bakar ).
ü  Gas pembuangan pabrik yang menghasilkan gas berbahaya seperti CFC.
c.                   Sumber lain yang dapat mencemari udara, yaitu :
ü  Transportasi ammonia.
ü  Kebocoran tangki klor.
ü  Timbulan gas metana dari lahan uruk atau tempat pembuangan akhir sampah.
ü  Uap pelarut organik.

2.3              Jenis - Jenis Pencemar Udara
Jenis-jenis pencemar yang merupakan parameter pencemar adalah :
Ø    Karbon Monoksida
Ø    Oksidan Nitrogen
Ø    Oksida Sulfur
Ø    CFC
Ø    Hidrokarbon (HC)
Ø    Ozon
Ø    Volatile Organic Compounds
Ø    Partikulat

Dengan menggunakan parameter konsentrasi zat pencemar dan waktu lamanya kontak antara bahan pencemar atau polutan dengan lingkungan ( udara ), WHO menetapkan empat tingkatan pencemaran sebagai berikut :
a.                  Pencemaran tingkat pertama : yaitu pencemaran yang tidak menimbulkan kerugian bagi manusia.
b.                  Pencemaran tingkat kedua ; yaitu pencemaran yang mulai menimbulkan kerugian bagi manusia seperti terjadinya iritasi pada indra kita.
c.                   Pencemaran tingkat ketiga ; yaitu pencemaran yang sudah dapat bereaksi pada faal tubuh dan menyebabkan terjadinya penyakit kronis.
d.                  Pencemaran tingkat keempat ; yaitu pencemaran yang telah menimbulkan sakit akut dan kematian bagi manusia maupun hewan dan tumbuh – tumbuhan.

2.4       Dampak Pencemaran Udara
Parameter pencemar dan dampak yang ditimbulkan adalah :
a.                  Karbon Monoksida (CO)
Jika dihirup dapat menyebabkan kemampuan pengihatan berkurang, sakit kepala, tak sadarkan diri, bahkan kematian.

b.                  Oksidan Nitrogen (NOx)
NOx adalah gas nitrogen yang terdiri dari Nitrogen Monoksida ( NO ) dan Nitrogen Dioksida ( NO2 ). Didalam udara, NO ini akan berubah menjadi NO2 dan dalam proses pebakaran NOx dihasilkan dari pembakaran bensin dengan O2 dan NO2. NO2 bersifat racun terutama terhadap paru-paru, kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru-paru. Kadar NO2 sebesar 800 ppm mengakibatkan 100% kematian terhadap binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
c.                   Semua bahan bakar minyak mengandung jumlah belerang/Sulfur dalam jumlah yang sangat kecil. Oksida belerang ini, apabila kontak dengan air di udara akan menyebabkan timbulnya hujan asam yang merupakan bahan yang merusak/korosif terhadap logam. Pencemaran SOx menimbulkan dampak terhadap manusia dan hewan, kerusakan terhadap tanaman terjadi dalam kadar 0.5 ppm. Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi dalam sistem pernafasan.
d.                  Hidrokarbon ( HC ) merupakan pencemar utama yang di emisikan oleh kendaraan bermotor dari lalu lintas dalam perkotaan. Struktur hidrokarbon terdiri dari elemen hidrogen dan karbon dan sifat fisik HC dipengaruhi oleh jumlah atom karbon yang menyusun molekul HC. C adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun padatan. Semakin tinggi jumlah atom karbon, unsur ini akan cenderung berbentuk padatan. Khususnya hidrokarbon jenis non-methane merupakan sumber Hidrokarbon yang paling dominan, sebagai pencemar primer dan yang memberikan kontribusi besar dalam penecamaran oksidan otokimia atau pemebentukan O3. Hidrokarbon adalah partikel bahan bakar yang tidak terbakar habis dalam ruang bakar. HC memiliki kadar yang tinggi bila ada masalah pada pengapian atau jumlah bahan bakar yang terlalu berlebihan dalam ruang bakar
e.                  Ozon terbentuk di udara dengan bantuan radiasi UV matahari dengan secara perlahan memecah molekul oksigen ( O2 ) menjadi atom Oksigen membentuk ozon. Pembentukan O3 di udara khususnya di daerah troposfer merupakan hasil proses kimia disebut juga secondary polutant dari reaksi NO2  dan HC dengan bantuan sinar matahari. Sifat O3 beracun dan sangat korosif yang dapat menyerang saluran pernafasan dan iritasi mata.
f.                    Partikulat dihasilkan dari akibat proses proses mekanis yang dapat menghasilkan abu atau partikel-pertikel bahan bakar dari pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna. Selain itu patikulat dapat dihasilkan dari proses oksidasi SO2 di udara dengan uap air, uap material akibat terkena panas dan bahan bakar organik. Karena komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah untuk menyatakan partikulat debu di udara.
g.                  Masalah kebisingan akibat transportasi berhubungan dengan tipe masalah pembangunan kota, seperti:
 a.  Tidak seimbangnya luas jalan dengan jumlah kendaraan.
 b. Tingginya presentase kendaraan dibandingkan dengan total jumlah kendaraan.
 c. Tingginya persimapangan jalan dan lampu lalu lintas.
 d. Pertemuan jalan sempit dan lebar.
Bagian kendaraan bermotor yang menimbulkan kebisingan :
-          Suara mesin.
-          Knalpot.
-          Klakson.
-          Badan kendaraan bermotor termsuk gesekan ban.

Dampak negatif pencemaran udara adalah sebagai berikut :
a.                  Dampak Kesehatan
Substansi pemcemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan. Dampak kesehatan paling umum dijumpai adalah ISPA ( Infeksi Saluran Pernafasan Akut), termasuk di antaranya asma, bronkitis, dan gangguan pernafasan lainnya.

b.                  Dampak Terhadap Tanaman
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, anatara lain klorosisi, nekrosis, dana bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.
c.                   Hujan asam
Dampak hujan asam antara lain:
-          Mempengaruhi kualitas air permukaan.
-          Merusak tanaman.
-          Melarutkan logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan.
-          Bersifat korosif/merusak sehingga merusak material dan bangunan.
d.                  Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.
Dampak pemanasan global :
ü  Pencairan es di kutub.
ü  Perubahan iklim regional dan global.
ü  Perubahan siklus hidup flora dan fauna.
Cara untuk menghilangkan karbondioksida di udara, terkait pemanasan global :
Ø  Memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi.
Ø  Menyuntikkan gas karbondioksida ke sumur – sumur minyak untuk mrndorong agar minyak bumi keluar ke permukaan
e.                  Kerusakan lapisan ozon
Kerusakan lapisan ozon menyebebkan sinar UV-B matahari tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit tanaman.

Dampak positif pencemaran :
Lahar dan partikulat yang disemburkan gunung berapi yang meletus, bila sudah dingin menyebabkan tanah menjadi subur, padir dan batuan yang dikeluarkan gunung berapi yang meletus dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Gas karbon monoksida bias di manfaatkan bagi tumbuh-tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis untuk menghasilkan karbohidrat yang sangat bergunan bagi makhluk hidup.


BAB III
PENCEMARAN UDARA DI KOTA BANDUNG MENIMBULKAN BERBAGAI DAMPAK

Dampak polusi udara di Kota Bandung semakin gawat. Dua tahun lalu, Bandung masih punya 55 hari bersih dalam setahun. Sekarang tinggal 32 hari. Tiga tahun lagi Bandung tidak punya udara bersih jika selalu begini kondisinya.
Data tersebut berasal dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat. Polusi udara menunjukkan kondisi lingkungan Bandung semakin berat, setelah sebelumnya pencemaran air dan tanah. Penyebabnya karena jumlah kendaraan bermotor semakin banyak dan kondisi alam cekungan Bandung. Akibatnya udara kotor yang terkumpul tak pergi kemana-mana.
Kondisi itu tak terkurangi oleh penerapan hari bebas tanpa kendaraan ( car free day ) di Jalan Dago dan Buah Batu setiap Ahad ( Minggu ). Begitu pula penghijauan dengan mengalih fungsikan bekas lahan pom bensin menjadi taman kota.
 Terdapat hal – hal penanggulangan yang dapat dilakukan, yaitu :
1.                  Penghijauan terutama di jalur Dago - Lembang.
Penanaman pohon itu untuk mendinginkan suhu sehingga udara kotor turun lalu mengalir keluar cekungan. Daerah perbukitan Dago sampai Lembang, kata Mubiar, satu-satunya cerobong yang menjadi jalan keluar udara kotor karena tebingnya landai.
2.                  Mengubah moda transportasi ke angkutan masal bertenaga listrik.
Cara ini untuk mengurangi emisi bahan bakar. Bandung dinilai cocok menjadi kota prioritas untuk pemakaian kendaraan tenaga listrik karena sejumlah pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi berada di sekitar cekungan. Pasokan listrik ke industri juga harus cukup, tujuannya untuk mengurangi asap pembakaran dari pemakaian batu bara.

Sementara itu, sejumlah aktivis lingkungan dan komunitas kreatif di Bandung Ahad, 11 September 2011, akan menghancurkan aspal di dalam kawasan hutan Babakan Siliwangi. Penghancuran aspal itu untuk menambah area resapan di dalam hutan.
Aksi tersebut, menurut salah seorang peserta dari Bandung Creative City Forum, Ridwan Kamil, mengawali rencana deklarasi Babakan Siliwangi sebagai World City Forest pada 27 September mendatang. Menurut Ridwan, badan PBB yaitu United Nation Environtmental Program baru-baru ini telah mengakui Babakan Siliwangi sebagai hutan kota. Sehingga kawasan itu harus bebas dari pembangunan.
Saat ini, di kawasan Babakan Siliwangi berdiri gedung Sasana Budaya Ganesha serta arena olahraga seperti lapangan sepakbola dan trek lari serta kolam renang yang dikelola oleh ITB. Lahan hutan juga rencananya akan dibangun hotel baru, namun terus dihambat aksi penolakan para aktivis lingkungan.
Dampak dari polusi udara ini juga dirasakan oleh wilayah-wilayah lain sekitar Bandung karena sifat dari polusi udara sendiri yang mampu melewati lintas batas. Dalam penelitian kali ini diambil Bandung mewakili daerah perkotaan dan Stasiun Ciater mewakili daerah pedesaan. Stasiun Ciater sendiri terletak di wilayah Subang yang berjarak ±45 km sebelah utara kota Bandung.
Dari hasil pengukuran polusi di kelima titik yaitu Dago, Mess LAPAN (Jl. Riau), Kantor LAPAN (Jl. DR. Djundjunan), Leuwigajah dan stasiun Ciater memperlihatkan bahwa daerah dekat dengan sumber seperti transportasi dan industri menunjukkan kecenderungan nilai konsentrasi polutan yang tinggi. Daerah yang relatif lengang seperti Stasiun Ciater (pedesaan) dan Dago (pemukiman) cenderung memiliki tingkat konsentrasi polutan yang rendah. Namun demikian dengan adanya kemampuan polutan untuk berpindah jauh dari sumbernya ke daerah lain maka hal ini memungkinkan daerah yang seharusnya relatif bersih dari polusi menjadi ikut tercemar.
Perkembangan kota Bandung kian meningkat, terutama sektor industri dan pariwisata. Apalagi sejak tol Cipularang mulai dibuka pada 2005. Industri dan pariwisata kota Bandung semakin menggeliat, menawarkan berbagai macam produk yang menggiurkan. Kota Bandung menjelma bagaikan magnet bagi para wisatawan domestik. Hampir setiap akhir pekan, kota Bandung dijejali kendaraan  yang sebagian besar berasal dari Jakarta. Kondisi ini mengakibatkan kemacetan, terutama di pusat-pusat perbelanjaan, seperti di Jl. RE. Martadinata yang terkenal dengan deretan FO (factory outlet) yang memanjakan para wisatawan. Begitu pula di sekitar Kalapa (alun-alun kota Bandung) yang selalu macet ketika akhir pekan.
Kepadatan arus transportasi ini memberikan setidaknya dua dampak bagi Kota Bandung. Pertama, perkembangan perekonomian semakin meningkat. Kedua, memburuknya kondisi lingkungan kota Bandung. Ini merupakan ironi yang tidak dapat dielakkan lagi. Kondisi lingkungan ini semakin diperparah dengan sedikitnya ruang hijau yang tersedia. Daerah resapan di sekitar Dago, kini banyak yang telah beralih fungsi menjadi restoran-restoran yang menyediakan pemandangan kota Bandung dari atas.
Berdasarkan data, Jalan Kiaracondong dilalui 1.545 angkot dari 7 trayek. Sedangkan Jalan Jakarta kondisinya lebih padat lagi yaitu 1.860 angkot dan bus dengan 13 trayek. Di kedua ruas jalan ini, hasil pengukuran udara embien menunjukan melebihi baku mutu, seperti meningkatnya konsentrasi Oksida Nitrogen (NOx), Karbon Monoksida (CO) dan konsentrasi debu berukuran 10 mikrometer (PM10).
Sementara dari hasil pengukuran uji emisi yang dilakuakan secara acak, dari 229 kendaraan yang diuji, hanya 29 kendaraan atau 21,4 % yang dinyatakan lulus uji. Sisanya sebanyak 180 atau 78,6 % tidak lulus uji.
Penanagan kondisi ini, menuntut keseriusan bersama.  Yaitu melakukan pengurangan sumber-sumber pencemaran, gerakan penghijauan, penggunaan enerji BBM ramah lingkuingan, serta penerapan alat atau teknologi penurun emisi gas buang yang terjangkau termauk peninglkatan kualitas manajemen lalu lintasnya

Hujan Semakin Asam
Menurut pemantauan yang dilakukan oleh LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) mengenai kualitas udara kota Bandung, selama kurun waktu lima tahun terakhir (2005-2009) terlihat bahwa air hujan di Martadinata dan Kebon Kalapa bersifat lebih asam dibandingkan Pasteur (Jl Dr Djundjunan) dan Dago, sebagaimana tampak pada grafik di bawah ini (Sumber: penelitian mengenai Hujan Asam, Tuti Budiwati dkk, 2005-2009).

Hujan asam merupakan fenomena pencemaran udara berkaitan dengan banyaknya unsur-unsur polutan di udara, terutama polutan SO2 dan NOx. Nilai pH  sebesar 5,6 menjadi batasan nilai untuk hujan asam. Artinya, apabila suatu wilayah memiliki nilai pH hujan di bawah 5,6 maka wilayah tersebut telah mengalami hujan asam. Apakah sumber utama zat pencemar SO2 dan NOx? Salah satu sumber utama penyumbang polutan ini adalah kendaraan bermotor. Sehingga, semakin banyak kendaraan bermotor semakin banyak pula polutan SO2 dan NOx yang teremisikan (terpancar) ke udara. Hal ini membuat kualitas udara wilayah tersebut pun menjadi semakin rendah. Meski demikian, ini tak selamanya berbanding lurus. Karena ada proses netralisasi di udara oleh NH4+ (ion amonium) yang berasal dari sumber pertanian, sampah atau lahan pekuburan.

Dampak Pencemaran Udara Terhadap Kesehatan
Pencemar udara dapat menyebabkan dampak buruk terhadap kesehatan, terutama penyakit yang berkaitan dengan saluran pernafasan. Selain itu pencemar debu yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor dan industri dapat mengandung logam-logam berbahaya seperti timah hitam (timbal). Timbal adalah pencemar yang diemisikan dari kendaraan bermotor dalam bentuk partikel halus yang dapat terisap ke dalam saluran pernafasan dan akhirnya terakumulasi di dalam jaringan tubuh seperti tulang, lemak dan darah.Konsentrasi Pb di dalam darah sebesar 10 g/dL pada wanita hamil dapat menyebabkan kerusakan janin, aborsi dan kematian neonatal. Pada anak-anak menyebabkan penurunan IQ, hambatan pertumbuhan dan gangguan pendengaran. Pada orang dewasa konsentrasi di atas 40 g/dL menyebabkan peningkatan hipertensi dan gangguan jantung, kerusakan ginjal, gangguan sistem syaraf dan kekebalan tubuh serta kanker. (Sumber : BPLHD Jawa Barat)
Secara umum efek pencemaran udara terhadap saluran pernafasan dapat menyebabkan terjadinya:
1.                  Iritasi pada saluran pernafasan.
Hal ini dapat menyebabkan pergerakan silia menjadi lambat, bahkan dapat terhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran pernafasan.
2.         Peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar.
3.          Produksi lendir dapat menyebabkan penyempitan saluran pernafasan.
4.         Rusaknya sel pembunuh bakteri di saluran pernafasan.
5.         Pembengkakan saluran pernafasan dan merangsang pertumbuhan sel, sehingga saluran pernafasan menjadi menyempit.
6.         Lepasnya silia dan lapisan sel selaput lendir.
Akibat dari hal tersebut di atas, akan menyebabkan terjadinya kesulitan bernafas sehingga benda asing termasuk bakteri/mikroorganisme lain tidak dapat dikeluarkan dari saluran pernafasan dan hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernafasan.

1 komentar:

  1. infomasinya sangat mengesankan, tapi sekarang ada solusi yang sangat mudah dan murah untuk melawan polusi udara yaitu dengan alat yang bernama "orgonit", secara ilmiah alat ini masih diperdebatkan tetapi secara bukti empirik dia terbukti bisa membersihkan udara dengan cepat. dengan asumsi luasan bandung seperti diatas kita cuma memerlukan minimal 5000 butir TB (orgonit ukuran 5cm x 5 cm x 3cm senilai Rp.10.000,-/butir) yang ditebar diseluruh kota bandung, ini bukan omong kosong , udara itu lebih penting dari air sekalipun. jikalau tidak ada yang bertindak saya sudah dan akan terus berusaha melawan polusi di bandung dengan penyebaran TB orgonite.
    untuk penjelasan lebih lanjut kunjungi KASKUS forum "orgonite dan gifting" atau email saya di kang_fuad99@yahoo.com

    BalasHapus